contoh etika dan etiket

February 25, 2011

Contoh dari etika dan penerapannya di masyarakat :

1. Mengembalikan barang milik orang yang telah dipinjam

2. Tidak membuang sampah sembarangan

3. Menghormati orang yang lebih tua

4. Bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari

5. Tidak datang terlambat ke sekolah atau tempat kerja

 

Contoh etiket dan penerapannya di masyarakat :
1. ketika bertemu dengan orangtua seharusnya mencium tangan sebagai tanda menghormatinya

2. makan tidak boleh berdecap dan bersendawa

3. makan dengan tangan kanan

4. mengucapkan salam ketika masuk ke rumah

5. tidak mengangkat kaki ketika makan

psikoanalisa menurut freud dan erikson

February 21, 2011

Teori Kepribadian Psikoanalisis

Ditengah-tengah psikologi yang memprioritaskan penelitian atas kesadaran dan memandang kesadaran sebagai aspek utama dari kehidupan mental itu munculah seorang dokter muda dari Wina dengan gagasannya yang radikal. Dokter muda yang dimaksud adalah Sigmund Freud, yang mengemukakan gagasan bahwa kesadaran itu hanyalah bagian kecil saja dari kehidupan mental, sedangkan bagian yang terbesarnya adalah justru ketaksadaran atau alam tak sadar. Freud mengibaratkan alam sadar dan tak sadar itu dengan sebuah gunung es yang terapung di mana bagian yang muncul ke permukaan air (alam sadar) jauh lebih kecil daripada bagian yang tenggelam (alam tak sadar)..
Di samping gagasan tersebut di atas, masih banyak gagasan besar dan penting Freud lainnya yang menjadikan ia dipandang sebagai seorang yang revolusioner dan sangat berpengaruh bukan saja untuk bidang psikologi atau psikiatri, melainkan juga untuk bidang-bidang lain yang mencakup sosiologi, antropologi, ilmu polilik, filsafat, dan kesusastraan atau kesenian. Untuk bidang psikologi, khususnya psikologi kepribadian dan lebih khusus lagi teori kepribadian, pengaruh Freud dengan psikoanalisis yang dikembangkannya dapat dilihat dari fakta, bahwa sebagian besar teori kepribadian modern teorinya tentang tingkah laku (kepribadian) mengambil sebagian, atau setidaknya mempersoalkan, gagasan-gagasan Freud. Dan psikoanalisis itu sendiri, sebagai aliran yang utama dalam psikologi memiliki teori kepribadian yang gampangnya kita sebut teori kepribadian psikoanalisis (psychoanalitic theory of personality).

Struktur Kepribadian

Teori psikoanalisis struktur kepribadian manusia terdiri dari id, ego dan superego. Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera. Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral. Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah.
Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas. Maka, satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada dengan mengorbankan dua sistem lainnya. Jadi, kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan.
Menurut Calvin S. Hall dan Lindzey, dalam psikodinamika masing-masing bagian dari kepribadian total mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja dinamika dan mekanisme tersendiri. Namun semuanya berinteraksi begitu erat satu sama lainnya, sehingga tidak mungkin dipisahkan. Id bagian tertua dari aparatur mental dan merupakan komponen terpenting sepanjang hidup. Id dan insting-insting lainnya mencerminkan tujuan sejati kehidupan organisme individual. Jadi, id merupakan pihak dominan dalam kemitraan struktur kepribadian manusia.
Menurut S. Hall dan Lindzey, dalam Sumadi Suryabarata, cara kerja masing-masing struktur dalam pembentukan kepribadian adalah: (1) apabila rasa id-nya menguasai sebahagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak primitif, implusif dan agresif dan ia akan mengubar impuls-impuls primitifnya, (2) apabila rasa ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya bertindak dengan cara-cara yang realistik, logis, dan rasional, dan (3) apabila rasa super ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak pada hal-hal yang bersifat moralitas, mengejar hal-hal yang sempurna yang kadang-kadang irasional.
Jadi, untuk lebih jelasnya sistem kerja ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah: Pertama, Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya insting. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Seperti yang ditegaskan oleh A. Supratika, bahwa aktivitas Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan proses primer.
Kedua, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol jalannya id, superego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara insting dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id dan yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja ego. Sedangkan yang ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.

Perkembangan Kepribadian

Perkembangan manusia dalam psikoanalisis merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.
Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun (A.Supratika, 1984), yaitu: (1) tahap oral, (2) tahap anal: 1-3 tahun, (3) tahap palus: 3-6 tahun, (4) tahap laten: 6-12 tahun, (5) tahap genetal: 12-18 tahun, (6) tahap dewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja.

Aplikasi Teori Sigmund Freud

Pertama, konsep kunci bahwa ”manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan dan keinginan”. Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, dengan melihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh konseli, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif. Hal ini sesuai dengan fungsi bimbingan itu sendiri. Mortensen (Yusuf Gunawan, 2001) membagi fungsi bimbingan kepada tiga yaitu: (1) memahami individu (understanding-individu), (2) preventif dan pengembangan individual, dan (3) membantu individu untuk menyempurnakannya. Memahami individu. Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan yang efektif jika mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan kemampuan anak didiknya. Karena itu bimbingan yang efektif menuntut secara mutlak pemahaman diri anak secara keseluruhan. Karena tujuan bimbingan dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasarkan atas pemahaman diri anak didiknya. Sebaliknya bimbingan tidak dapat berfungsi efektif jika konselor kurang pengetahuan dan pengertian mengenai motif dan tingkah laku konseling, sehingga usaha preventif dan treatment tidak dapat berhasil baik. Preventif dan pengembangan individual. Preventif dan pengembangan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Preventif berusaha mencegah kemorosotan perkembangan anak dan minimal dapat memelihara apa yang telah dicapai dalam perkembangan anak melalui pemberian pengaruh-pengaruh yang positif, memberikan bantuan untuk mengembangkan sikap dan pola perilaku yang dapat membantu setiap individu untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Membantu individu untuk menyempurnakan. Setiap manusia pada saat tertentu membutuhkan pertolongan dalam menghadapi situasi lingkungannya. Pertolongan setiap individu tidak sama. Perbedaan umumnya lebih pada tingkatannya dari pada macamnya, jadi sangat tergantung apa yang menjadi kebutuhan dan potensi yang ia miliki. Bimbingan dapat memberikan pertolongan pada anak untuk mengadakan pilihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Jadi dalam konsep yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa teori Freud dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan proses bantuan kepada konseling, sehingga metode dan materi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan individu.
Kedua, konsep kunci tentang “kecemasan” yang dimiliki manusia dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yakni membantu individu supaya mengerti dirinya dan lingkungannya; mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana; mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya; mampu mengelola aktivitasnya sehari-hari dengan baik dan bijaksana; mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, sosial dalam masyarakatnya. Dengan demikian kecemasan yang dirasakan akibat ketidakmampuannya dapat diatasi dengan baik dan bijaksana. Karena menurut Freud setiap manusia akan selalu hidup dalam kecemasan, kecemasan karena manusia akan punah, kecemasan karena tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan dan banyak lagi kecemasan-kecemasan lain yang dialami manusia. Jadi bimbingan ini dapat merupakan wadah dalam rangka mengatasi kecemasan.
Ketiga, konsep psikolanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pembinaan akhlak individual, Islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik. Dalam hal ini sebuah hadis Nabi menyatakan bahwa “Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, hingga lisannya fasih. Kedua orangtuanyalah yang ikut mewarnainya sampai dewasa.” Selain itu seorang penyair menyatakan bahwa “Tumbuhnya generasi muda kita seperti yang dibiasakan oleh ayah-ibunya”. Hadis dan syair tersebut di atas sejalan dengan konsep Freud tentang kepribadian manusia yang disimpulkannya sangat tergantung pada apa yang diterimanya ketika ia masih kecil. Namun tentu saja terdapat sisi-sisi yang tidak begitu dapat diaplikasikan, karena pada hakikatnya manusia itu juga bersifat baharu.
Keempat, teori Freud tentang “tahapan perkembangan kepribadian individu” dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberi arti bahwa materi, metode dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Oleh karena itu konselor yang melakukan bimbingan haruslah selalu melihat tahapan-tahapan perkembangan ini, bila ingin bimbingannya menjadi efektif.
Kelima, konsep Freud tentang “ketidaksadaran” dapat digunakan dalam proses bimbingan yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi impuls-impuls dorongan Id yang bersifat irrasional sehingga berubah menjadi rasional.

 

Erikson adalah seorang post-freudian atau neofreudian. Akan tetapi, teori Erikson lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan. Hal ini terjadi karena dia adalah seorang ilmuwan yang punya ketertarikan terhadap antropologis yang sangat besar, bahkan dia sering meminggirkan masalah insting dan alam bawah sadar. Oleh sebab itu, maka di satu pihak ia menerima konsep struktur mental Freud, dan di lain pihak menambahkan dimensi sosial-psikologis pada konsep dinamika dan perkembangan kepribadian yang diajukan oleh Freud. Bagi Erikson, dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Tampak dengan jelas bahwa yang dimaksudkan dengan psikososial apabila istilah ini dipakai dalam kaitannya dengan perkembangan. Secara khusus hal ini berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis. Sedangkan konsep perkembangan yang diajukan dalam teori psikoseksual yang menyangkut tiga tahap yaitu oral, anal, dan genital, diperluasnya menjadi delapan tahap sedemikian rupa sehingga dimasukkannya cara-cara dalam mana hubungan sosial individu terbentuk dan sekaligus dibentuk oleh perjuangan-perjuangan insting pada setiap tahapnya.
Pusat dari teori Erikson mengenai perkembangan ego ialah sebuah asumpsi mengenai perkembangan setiap manusia yang merupakan suatu tahap yang telah ditetapkan secara universal dalam kehidupan setiap manusia. Proses yang terjadi dalam setiap tahap yang telah disusun sangat berpengaruh terhadap “Epigenetic Principle” yang sudah dewasa/matang. Dengan kata lain, Erikson mengemukakan persepsinya pada saat itu bahwa pertumbuhan berjalan berdasarkan prinsip epigeneticFase Perkembangan Erikson
Trust vs Mistrust (Kepercayaan vs Kecurigaan)
Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun. Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu ketidakpercayaan. dan merasa terancam terus menerus. Hal ini ditandai dengan munculnya frustasi, marah, sinis, maupun depresi.

Otonomi vs Perasaan Malu dan Ragu-ragu
Pada tahap kedua adalah tahap anus-otot (anal-mascular stages), masa ini biasanya disebut masa balita yang berlangsung mulai dari usia 18 bulan sampai 3 atau 4 tahun. Tugas yang harus diselesaikan pada masa ini adalah kemandirian (otonomi) sekaligus dapat memperkecil perasaan malu dan ragu-ragu.

Inisiatif vs Kesalahan
Tahap ketiga adalah tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun (pra sekolah), dan tugas yang harus diemban seorang anak pada masa ini ialah untuk belajar punya gagasan (inisiatif) tanpa banyak terlalu melakukan kesalahan..

Kerajinan vs Inferioritas
Tahap keempat adalah tahap laten yang terjadi pada usia sekolah dasar antara umur 6 sampai 12 tahun. Salah satu tugas yang diperlukan dalam tahap ini ialah adalah dengan mengembangkan kemampuan bekerja keras dan menghindari perasaan rasa rendah diri.

Identitas vs Kekacauan Identitas
Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Pencapaian identitas pribadi dan menghindari peran ganda merupakan bagian dari tugas yang harus dilakukan dalam tahap ini. Menurut Erikson masa ini merupakan masa yang mempunyai peranan penting, karena melalui tahap ini orang harus mencapai tingkat identitas ego, dalam pengertiannya identitas pribadi berarti mengetahui siapa dirinya dan bagaimana cara seseorang terjun ke tengah masyarakat

Keintiman vs Isolasi
Tahap pertama hingga tahap kelima sudah dilalui, maka setiap individu akan memasuki jenjang berikutnya yaitu pada masa dewasa awal yang berusia sekitar 20-30 tahun. Jenjang ini menurut Erikson adalah ingin mencapai kedekatan dengan orang lain dan berusaha menghindar dari sikap menyendiri.

Generativitas vs Stagnasi
Masa dewasa madya berada pada posisi ke tujuh, dan ditempati oleh orang-orang yang berusia sekitar 30 sampai 60 tahun. Apabila pada tahap pertama sampai dengan tahap ke enam terdapat tugas untuk dicapai, demikian pula pada masa ini dan salah satu tugas untuk dicapai ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu (generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnasi)..

Integritas vs Keputusasaan
Tahap terakhir dalam teorinya Erikson disebut tahap usia senja yang diduduki oleh orang-orang yang berusia sekitar 60 atau 65 ke atas. Dalam teori Erikson, orang yang sampai pada tahap ini berarti sudah cukup berhasil melewati tahap-tahap sebelumnya dan yang menjadi tugas pada usia senja ini adalah integritas dan berupaya menghilangkan putus asa dan kekecewaan.

 

REFERENSI:
Suryabrata Sumadi. Psikologi Kepribadian. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2003.

Papalia.D., Old. S., Feldman.,. Human Development. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. 2008.

tugas softskill

February 12, 2011

Kesehatan Mental (part 1)

Posted by Miftah on February 9, 2010 · Leave a Comment

 

i

 

3 Votes

 
Setelah Perang Dunia II, perhatian masyarakat mengenai kesehatan jiwa semakin bertambah. Kesehatan mental bukan suatu hal yang baru bagi peradaban manusia. Pepatah Yunani tentang mens sana in confore sano merupakan satu indikasi bahwa masyarakat di zaman sebelum masehi pun sudah memperhatikan betapa pentingnya aspek kesehatan mental.

Yang tercatat dalam sejarah ilmu, khususnya di bidang kesehatan mental, kita dapat memahami bahwa gangguan mental itu telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada upaya-upaya mengatasinya sejalan dengan peradaban. Untuk lebih lanjutnya, berikut dikemukakan secara singkat tentang sejarah perkembangan kesehatan mental.

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Seperti juga psikologi yang mempelajari hidup kejiwaan manusia, dan memiliki usia sejak adanya manusia di dunia, maka masalah kesehatan jiwa itupun telah ada sejak beribu-ribu tahun yang lalu dalam bentuk pengetahuan yang sederhana.

Beratus-ratus tahun yang lalu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah syaitan-syaitan, roh-roh jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha kemanusiaan yang mengadakan perbaikan dalam  menanggulangi orang-orang yang terganggu mentalnya ini. Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke dari Inggris adalah salah satu contoh orang yang berjasa dalam mengatasi dan menanggulangi orang-orang yang terkena penyakit mental. Masa-masa Pinel dan Tuke ini selanjutnya dikenal dengan masa pra ilmiah karena hanya usaha dan praksis yang mereka lakukan tanpa adanya teori-teori yang dikemukakan.[1]

Masa selanjutnya adalah masa ilmiah, dimana tidak hanya praksis yang dilakukan tetapi berbagai teori mengenai kesehatan mental dikemukakan. Masa ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan alam di Eropa.

Dorothea Dix merupakan seorang pionir wanita dalam usaha-usaha kemanusiaan berasal dari Amerika. Ia berusaha menyembuhkan dan memelihara para penderita penyakit mental dan orang-orang gila. Sangat banyak jasanya dalam memperluas dan memperbaiki kondisi dari 32 rumah sakit jiwa di seluruh negara Amerika bahkan sampai ke Eropa. Atas jasa-jasa besarnya inilah Dix dapat disebut sebagai tokoh besar pada abad ke-19.

Tokoh lain yang banyak pula memberikan jasanya pada ranah kesehatan mental adalah Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Beers pernah sakit mental dan dirawat selama dua tahun dalam beberapa rumah sakit jiwa. Ia mengalami sendiri betapa kejam dan kerasnya perlakuan serta cara penyembuhan atau pengobatan dalam asylum-asylum tersebut. Sering ia didera dengan pukulan-pukulan dan jotosan-jotosan, dan menerima hinaan-hinaan yang menyakitkan hati dari perawat-perawat yang kejam. Dan banyak lagi perlakuan-perlakuan kejam yang tidak berperi kemanusiaan dialaminya dalam rumah sakit jiwa tersebut. Setelah dirawat selama dua tahun, beruntung Beers bisa sembuh.

Di dalam bukunya ”A Mind That Found Itself”, Beers tidak hanya melontarkan tuduhan-tuduhan terhadap tindakan-tindakan kejam dan tidak berperi kemanusiaan dalam asylum-asylum tadi, tapi juga menyarankan program-program perbaikan yang definitif pada cara pemeliharaan dan cara penyembuhannya. Pengalaman pribadinya itu meyakinkan Beers bahwa penyakit mental itu dapat dicegah dan pada banyak peristiwa dapat disembuhkan pula. Oleh keyakinan ini ia kemudian menyusun satu program nasional, yang berisikan:

  1. Perbaikan dalam metode pemeliharaan dan penyembuhan para penderita mental.
  2. Kampanye memberikan informasi-informasi agar orang mau bersikap lebih inteligen dan lebih human atau berperikemanusiaan terhadap para penderita penyakit emosi dan mental.
  3. Memperbanyak riset untuk menyelidiki sebab-musabab timbulnya penyakit mental dan mengembangkan terapi penyembuhannya.
  4. Memperbesar usaha-usaha edukatif dan penerangan guna mencegah timbulnya penyakit mental dan gangguan-gangguan emosi.

William James dan Adolf Meyer, para psikolog besar, sangat terkesan oleh uraian Beers tersebut. Maka akhirnya Adolf Meyer-lah yang menyarankan agar ”Mental Hygiene” dipopulerkan sebagai satu gerakan kemanusiaan yang baru. Dan pada tahun 1908 terbentuklah organisasi Connectitude Society for Mental Hygiene. Lalu pada tahun 1909 berdirilah The National Committee for Mental Hygiene, dimana Beers sendiri duduk di dalamnya hingga akhir hayatnya.[2]

Dasar dan Tujuan Mempelajari Kesehatan Mental

Kesanggupan seseorang untuk hidup rela dan gembira bergantung pada sejauh mana ia menikmati kesehatan mental. Kesehatan mental yang wajar adalah yang sanggup menikmati hidup ini, rela kepadanya, menerimanya dan sanggup membentuknya sesuai dengan kehendaknya.

Pemahaman terhadap kesehatan mental yang wajar memestikan akan pengetahuan tentang konsep dasar kesehatan mental, seperti yang telah dijelaskan oleh para psikolog, yaitu motivasi (motivation), pertarungan psikologikal (psychologgical conflict), kerisauan (anciety), dan cara membela diri.[3]

Motivasi adalah keadaan psikologis yang merangsang dan memberi arah terhadap aktivitas manusia. Dialah kekuatan yang menggerakkan dan mendorong aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu motivasi primer (biologis) yang mempunyai kaitan dengan dengan proses organik atau yang timbul dari kekurangan atau kelebihan pada sesuatu yang berkaitan dengan struktur organik manusia. Kedua, motivasi sekunder (psikologi) yang jelas tidak ada kaitannya dengan organ-organ manusia.

Pertarungan psikologis adalah terdedahnya (tercegahnya) seseorang kepada kekuatan-kekuatan yang sama besarnya yang mendorongnya kepada berbagai hal dimana ia tidak sanggup memilih salah satu hal tersebut.

Kerisauan, secara umum, adalah pengalaman emosional yang tidak menggembirakan yang dialami seseorang ketika merasa takut atau terancam sesuatu yang tidak dapat ditentukannya dengan jelas. Biasanya keadaan ini disertai perubahan keadaan fisiologis, seperti cepatnya debaran jantung, hilang selera makan, rasa sesak nafas, dan lain sebagainya.

Cara membela diri merupakan cara yang dibuat dan dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar untuk menghindarkan dirinya menghadapi pergolakan kerisauan yang dihadapi dan kekuatan-kekuatan yang bertarung dengan nilai-nilai, sikap dan tuntutan masyarakat.

Mempelajari kesehatan pada berbagai ilmu itu pada prinsipnya bertujuan sebagai berikut:[4]

  1. Memahami makna kesehatan mental dan faktor-faktor penyebabnya.
  2. Memahami pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam penanganan kesehatan mental.
  3. Memiliki kemampuan dasar dalam usaha peningkatan dan pencegahan kesehatan mental masayarakat.
  4. Meningkatkan kesehatan mental masyarakat dan mengurangi timbulnya gangguan mental masyarakat.

 

tugas softskill

February 12, 2011

menurut saya konsep kesehatan merupakan hal yang terpenting bagi manusia, apabila badan kita sehat maka kita bisa melakukan aktivitas.

Konsep kesehatan penting untuk membantu memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang arti pentingnya kesehatan yang menyeluruh. Konsep kesehatan dibawah ini dengan aneka macam pengobatan herbal dan jus yang mengandung bahan alami akan dapat menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan, serta tanpa efek samping bila digunakan sesuai dengan petunjuknya serta konsultasikan kepada para ahlinya.

tugas softskill

February 12, 2011

konsep kesehatan menurut saya adalah kesehatan sangat penting bagi tubuh kita,

Konsep kesehatan penting untuk membantu memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang arti pentingnya kesehatan yang menyeluruh. Konsep kesehatan dibawah ini dengan aneka macam pengobatan herbal dan jus yang mengandung bahan alami akan dapat menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan, serta tanpa efek samping bila digunakan sesuai dengan petunjuknya serta konsultasikan kepada para ahlinya.

jurnal psikologi industri dan organisasi

November 5, 2010

Original article

Scand J Work Environ Health 2007;33(1):37-44  Download:

Distinguishing between overtime work and long workhours among full-time and part-time workers

by Beckers DGJ, van der Linden D, Smulders PGW, Kompier MAJ, Taris TW, Van Yperen NW

Objectives This study aimed at disentangling the effects of overtime hours from those of long workhours. For part-time workers, overtime work is not intertwined with long workhours as it is for full-time workers. Therefore, part-time and full-time employees were compared with regard to the association between overtime and well-being (fatigue and work motivation). Such comparisons may also shed more light on the psychological meaning of overtime work for part-time and full-time workers.

Methods A survey study was conducted among a representative sample of Dutch employees (N=2419). An analysis of covariance was used to investigate whether the relationship between overtime and well-being differs between marginal part-time (8–20 contractual workhours), substantial part-time (21–34 hours), and full-time (≥35 hours) workers. Work characteristics (ie, job demands, decision latitude, and job variety), age, and gender were treated as covariates.

Results No significant relationship between overtime and fatigue was found for any of the contract-hour groups. For the part-time workers, overtime was not related to higher work motivation, whereas for full-time workers it was.

Conclusions It is important to distinguish between overtime and long workhours, given the differential overtime–motivation relationship among part-time and full-time workers. This finding suggests that part-time employees work overtime for reasons other than motivation or that working overtime does not enhance work motivation for this group of employees. Overtime work seems to have a different meaning for part-time and full-time workers.

Refers to the following texts of the Journal: 2003;29(3):171-188 2005;31(6):405-408 2003;29(1):1-4 2005;31(5):329-335

The following article refers to this text: 2008;34(3):213-223

Key terms fatigue; full-time worker; job characteristics; long workhours; overtime; part-time worker; work motivation

Print ISSN: 0355-3140 Electronic ISSN: 1795-990X Copyright © Scandinavian Journal of Work, Environment & Health

 

 

 

Transformational Leadership and Organizational Effectiveness in Recreational Sports/Fitness Programs

ISSN: 1543-9518


Submitted by: Chin-Hsien Hsu, Dr. Richard C. Bell and Kuei-Mei Cheng

Transformational Leadership and Organizational Effectiveness in Recreational Sports/Fitness Programs

Leadership has drawn great attention from scholars in various fields in recent years. Yukl (1989) wrote that “the study of leadership has been an important and central part of the literature of management and organization behavior for several decades” (p. 251). Paton (1987), too, realized that leadership has become the most popular subject within the field of sports management. Weese (1994) furthermore advised that some 7,500 citations on leadership appear in Bass and Stogdill’s Handbook of Leadership (1990). In an article on sports management and leadership, Sourcie (1994) noted that quite a few doctoral dissertations focus on “managerial leadership in sport organizations”. Earlier, Sourcie (1982) had estimated that nearly 25 studies on leadership were completed between 1969 and 1979, as reported in Dissertation Abstracts International, while the same source shows that 30 additional doctoral researchers employed leadership as the primary dependent variable of dissertation research between 1979 and 1989 (p. 6).

There is great controversy over the definition of leadership and thus over approaches to studying leadership (Yukl, 1989). The present authors, however, focus exclusively on the transactional-transformational leadership model and the relationship between transformational leadership and organization effectiveness. The paper looks first at definitions of transactional and transformational leadership and the components of transformational leadership. It then reviews discussions of the transactional-transformational leadership model, particularly the differences between and relationships shared by the concepts of transactional and transformational leadership. In addition, it describes the four elements of transformational leadership.

The paper also investigates existing studies of organizational effectiveness and looks at scholars’ varying approaches to organizational effectiveness. Following this, it discusses the relationships between transformational leadership and organizational effectiveness. Finally, through a review of related literature from the field of recreational sports and fitness programs, the authors examine relationships between transformational leadership and organizational effectiveness.

 

 

The Transactional-Transformational Leadership Model

Working from Burns’s earlier efforts (1978), Bass (1985) elaborated the transactional-transformational model. As Yukl (1989) wrote, Bass offered a more thoroughly detailed theory of transformational leadership that further differentiated transformational from transactional leadership. Bass viewed transformational leadership from the perspective of leaders’ influence on subordinates. Influenced by transformational leaders, subordinates become motivated to surpass original expectations (Yukl, 1989). Bass argued that transactional leadership and transformational leadership are “distinct dimensions rather than opposite ends of one continuum” (Doherty & Danylchuk, 1996) Or, as Yukl (1989) and Weese (1994) wrote, while transactional leadership and transformational leadership are closely related parts of leadership, they remain distinct.

In addition, Bass viewed transformational leadership as an augmentation and extension of transactional leadership. In his understanding, “[A]ll leaders are transactional, to some extent, exchanging rewards for performance, but some leaders are also transformational, going beyond simple leader-subordinate exchange relations” (Doherty & Danylchuk, 1996, p. 294). Studies by other researchers support Bass’s argument both empirically and theoretically, according to Doherty and Danylchuk (1996).

In his discussion of transformational leadership among the coaches of sports teams, Armstrong (2001) laid out four main characteristics of transformational leadership: (a) ethical behavior, (b) shared vision and shared goals, (c) performance improvement through charismatic leadership, and (d) leadership by example (p. 44–45). Armstrong’s framework is a simplified version of the components of transformational leadership provided by Bass (1985), who identified those as intellectual stimulation, individual consideration, inspirational leadership, and idealized influence (Doherty & Danylchuk, 1996; Weese, 1994). Intellectual stimulation refers to a leader’s capability to stimulate followers to become curious and creative about thinking and problem solving (Doherty & Danylchuk, 1996; Weese, 1994). Individual consideration describes the relationship between leader and follower in terms of two dimensions, developmental orientation and individual orientation (Doherty & Danylchuk, 1996). A developmental orientation exists when leaders “assign tasks that will enhance an individual’s potential, abilities, and motivation” (Doherty & Danylchuk, 1996, p. 295). An individual orientation exists when a leader stresses “mutual understanding and familiarity via one-on-one relations and two-way communication” (Doherty & Danylchuk, 1996, p. 295).

Inspirational leadership refers to the transformational leader’s inspiration and encouragement of subordinates, which creates emotional attachment to the leader and greater identification with his or her vision for organizational goals (Doherty & Danylchuk, 1996; Weese, 1994). The final element is idealized influence, which is closely related to charisma (Weese, 1994). Doherty and Danylchuk (1996) view idealized influence as “the behavioral counterpart to charisma” (p. 295), with the leader’s traits promoting commitment among followers in order to tap their full potential (Doherty & Danylchuk, 1996; Weese, 1994).

Employee empowerment: high-performance companies link business objectives to people practices

Journal of Property Management, May-June, 2003 by Lawrence J. Krema

Everyone in commercial real estate knows the key to maximizing occupancy and profitability is offering prime locations with clean space and amenities at a competitive price. But with rising vacancies, rents trending downward and customers demanding more than ever, is this really enough to ensure success?

Probably not. Beyond the fundamentals, competitive advantage lies squarely in our ability to attract, develop and retain top employee talent. After all, at the end of the day, ours is a service business, dependent upon building longterm relationships with our customers.

In today’s highly competitive marketplace, HR professionals and property managers must ensure their companies’ “people practices” are designed to give employees the skills, tools and motivation to win everyday. Property managers must be able to anticipate and respond to the changing needs of customers in a very difficult and competitive marketplace. Moreover, highly trained, motivated and responsive customer service representatives, security professionals and property management teams are critical to exceeding customers’ expectations and maintaining a company’s competitive edge.

In order for these “people practices” to be successful, they must be developed in full alignment with the organixation’s overall business objectives. Yet, many companies overlook this vital connection. According to a recent survey of HR executives by the Saratoga Institute, only 55 percent felt they did even an adequate job of linking compensation and benefits to their companies’ strategies.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelompok : Kesih Sugandi Pratiwi                12509657

Oktinta Putri

Yolla Nur Adzani               12509278

Windy Novita Sari              15509654

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS GUNADARMA

BEKASI

 

hubungan psikologi sosial dengan ilmu lain

November 5, 2010

Hubungan psikologi social dengan ilmu lain.

 

  • Hubungan psikologi social dengan sosiologi

 

Ilmu yang dapat mempengaruhi pada Psikologi Sosial adalah Sosiologi dan Antropologi,(Bonner-1953)

Sosiologi : Suatu bidang ilmu yang terkait dengan perilaku hubungan antar individu, atau antara individu dengan kelompok, atau antar kelompok (interaksionisme) dalam perilaku sosialnya.

Antropologi : lebih memfokuskan pada perilaku sosial dalam suprastruktur budaya tertentu, jd lebih ke bidang budayanya.

Psikologi Sosial : jembatan diantara cabang-cabang pengetahuan sosial lainnya atau mempelajari perilaku individu yang bermakna dalam hubungan dengan lingkungan atau rangsang sosialnya.

 

Perbedaan  antara Psikologi Sosial dengan Sosiologi adalah lebih terfokus studinya.

Fokus perhatian studi psikologi social lebih dominan ke perilaku individu.

Berbeda dengan Sosiologi  yang lebih terfokus pada sistem dan struktur sosial yang dapat berubah tanpa bergantung pada individu tersebut.Sosiologi lebih memfokuskan pada masyarakat dan budaya yang melingkupi individu.

 

 

  • Hubungan psikologi social dengan antropologi

 

 

Tiga masalah yang menjadi fokus perhatian antropologi:

1. ‘kepribadian bangsa’

2.      Peranan individu dalam proses perubahan adat istiadat

3.      Nilai universal dalam

4.      Persoalan ‘kepribadian bangsa’  sesudah perang Dunia ke-1 hubungan antar bangsa kian intensif, perhatian penjajah terhadap kepribadian bangsa jajahan

Fokus studi antropologi awal tahun 1920-an : Ahli antropologi tertarik pada lingkungan dan kebudayaan dari bayi dan anak-anak, masa itu sangat dianggap penting bagi pembentukan kepribadian dewasa yang khas dalam suatu masyarakat. Karena pembentukan kepribadian adalah sesuatu yang patut dipelajari dan di tanam dalam diri masyarakat, agar da batasan dan norma-norma yang berlaku.

 

Hampir semua penelitian yang mendalami “kepribadian bangsa” menyimpulkan bahwa ciri-ciri kepribadian yang tampak berbeda pada bangsa-bangsa di dunia ini bersumber pada cara pengasuhan pada masa kanak-kanak. Karena pada masa kanak-kanak adalah masa yang paling penting untuk menngatur dan melihat jati diri, masa kanak-kanak yang bisa di ajarkan berperilaku baik sesuai norma dan adat dan masa kanak-kanalah yang pandai meniru.

 

Misalnya: orang jepang yang dewasa menjadi bersifat memaksakan kehendaknya, karena ketatnya latihan mengenai cara membuang air pada masa kanak-kanak

perkembangannya, saat ini kesimpulan di atas tidak bisa diandalkan lagi.

 

 

Dalam perkembangannya, fokus pendekatan psikologis pada keanekaragaman kebudayaan, berubah. Minat terhadap hubungan pengasuhan semasa anak-anak dan kepribadian setelah dewasa, tetap dipertahankan, namun beberapa ahli antropologi mulai meneliti faktor-faktor determinan yang mungkin jadi penyebab dari kebiasaan pengasuhan anak yang beragamKebudayaan tertentu menghasilkan karakteristik psikologi tertentu menimbulkan ciri budaya lainnya

 

Kesimpulan mengenai pendekatan psikologis dalam antropologi budaya: dengan menghubungkan variasi dalam pola budaya dengan masa pengasuhan anak, kepribadian, kebiasaan, dan kepercayaan yang mungkin menjadi konsekuensi dari faktor psikologis dan prosesnya

 

Anthropology in mental health: memfokuskan diri pada aspek sosial budaya yang mempengaruhi kondisi/ gangguan mental pada diri individu

 

  • Hubungan psikologi social dengan ilmu politik

 

Psikologi merupakan ilmu yang mempunyai peranan penting dalam bidang polotik, “massa psikologi”

Penting bagi politisi untuk menyelami gerakan jiwa dari rakyat pada umumnya, golongan tertentu pada khususnya.

Psikologi sosial        dapat menjelaskan bagaimana sikap dan harapan masyarakat dapat melahirkan tindakan serta tingkahlaku yang berpegang teguh pada tuntutan masyarakat

 

  • Hubungan psikologi social dengan ilmu komunikasi

 

Banyak disiplin ilmu yang terlibat dalam studi komunikasi

Dalam perkembangannya ilmu komunikasi melakukan “perkawinan’ dengan berbagai ilmu lain

Subdisiplin : komunikasi politik, sosiologi komunikasi masa, psikologi komunikasi

Psikologi komunikasi : ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengndalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi

 

  • Hubungan psikologi social dengan ilmu alam

 

Pada permulaan abad ke-19 psikologi dalam penelitiannya banyak terpengaruh oleh ilmu alam.

Psikologi disusun berdasarkan hasil eksperimen

Objek penelitian psikologi: manusia dan tingkah lakunya yang selalu hidup dan berkembang

Objek penelitian ilmu alam : benda mati

 

  • Hubungan psikologi social dengan imu filsafat

 

Filsafat : hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya

Dalam penyelidikannya filsafat berangkat dari apa yang dialami manusia.

Ilmu psikologi menolong filsafat dalam penelitiannya

Kesimpulan filasafat tentang kemanusiaan akan ‘pincang’ dan jauh dari kebenaran jika tidak mempertimbangkan hasil psikologi

 

  • Hubungan psikologi social dengan ilmu pendidikan

 

Ilmu Pendidikan: bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak lahir sampai mati

Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik bilamana tidak didasarkan pada psikologi perkembangan

Hubungan kedua disiplin ilmu ini melahirkan Psikologi Pendidikan

 

cerpen setia

November 5, 2010

mila…hahahah…ahhhh.”
ryo membaringkan tubuhnya kebelakang.menatap langit malam yang gelap hitam dan sama sekali tidak menaburkan bintang.beberapa burung terbang melintas diatas kami dan angin dingin berhembus lembut membuat tubuhku sedikit menggigil.
Aku melangkahkan kakiku kearahnya dan duduk disampingnya sambil menyalakan sebatang rokok.seperti biasa malam ini kami berdua duduk diatap gedung kos ryo sambil mengobrol.tapi malam ini aku benar benar ingin mengatakan sesuatu ke-ryo dan kalau ada kesempatan aku meninju wajahnya jika jawaban yang kudapatkan tidak menyenangkan.walau kutahu itu akan membuat persahabatan yang kami bina akan runtuh.untuk saat ini lebih baik aku mendengar apa yang ingin diucapkannya.
“kali ini aku serius faith…beberapa kali aku dan mila keluar tuk date …dan sepertinya dia juga punya perasaaan kepadaku.” ucap ryo senang.
“….” aku memilih untuk diam dan menghisap lebih dalam rokok yang ada dimulutku.
“kek waktu itu, dia telp pas aku lagi makan siang dikantin sama vina…n sepertinya dia cemburu pas denger suara vina…masak telpnya langsung dimatikan…hahahahah.”
“trus,waktu itu kami nonton film transformer..aku megang tangannya selama dibioskop dan dia membiarkannya saja..tentu aja aku gak berani lebih dari itu…first date gitu loh.” cerita ryo bersemangat.
aku berusaha mendengar cerita ryo dengan baik.kegelisahan dihatiku tidak ingin kutunjukan kepada sahabatku ini.untuk saat ini aku ingin menyimpannya sampai aku kehilangan kesabaranku.sambil dia bercerita beberapa memori masa lalu terbayang dipikiranku.aku,ryo,dan yuni yang sejak lama berteman.terbayang wajah yuni temanku yang kukenal sejak SMA dan memasuki universitas yang sama dijakarta dimana aku mengenal ryo saat awal awal perkuliahan.
“tau gak bro…malam minggu lalu tiba tiba mila muncul dipintu kosku..aku kaget..asli kaget..mau ngapain nih perempuan…untung aja si yuni gak liat..kalau gak bisa berabe..”
ryo mengangkat tubuhnya dan membuka bungkus rokok yang ada disampingku.mengambil satu batang rokok dan melempar lemparkanya diantara kedua tangannya.aku melemparkan pemantik apiku kepadanya yang segera ditangkapnya.ryo membakar rokoknya dan menghisapnya dalam dalam.
“kamu masih simpan pemantik ini faith…hahahha” tawanya.
pikiranku melayang kebayangan kejadian dimasa silam.aku dan yuni sedang mengerjakan tugas makalah dikomputer dikamar kos yuni.senyum dan tawa yuni sambil menceritakan kekonyolan ryo yang selalu dilakukannya tanpa pikir panjang.aku mencoba untuk selalu tersenyum saat yuni melakukan itu walau hatiku sedikit merasa iri dan pahit.tapi untuk sahabatku yang satu ini aku tidak mau membuatnya kecewa dan sedih.
ryo muncul dipintu kos yuni dan sambil tersenyum senyum dia melempar tasnya ketempat tidur dan merebahkan badannya dilantai.yuni yang berada didekatnya hanya menyembunyikan wajahnya yang memerah dilembaran folio yang dipegangnya.dengan alasan ingin merokok aku pergi keluar ruangan dan melangkahi tubuh ryo yang berbaring dipintu kos.
ryo merogoh sakunya dan memberikan ku pemantik itu yang katanya dibeli untuk hadiah ulang tahunku hari itu.aku mengambil pemantik itu dari tangannya dan tanpa menoleh kebelakang aku berjalan.selama 2 jam sepertinya aku harus menjauh dari area kosan ini pikirku.saat aku berada didepan gedung aku bisa melihat pintu kamar yuni tertutup yang membawa pikiranku kembali kemasa ini.
“ahhhh…apa yang yang harus kulakukan bro…aku gak ingin menyakiti yuni…tapi kali ini aku sepertinya benar benar jatuh cinta kemila…wajahnya..tubuhnya..sikapnya…senyumnya…aku serius keknya akan menikahinya…gimana menurutmu faith??” tanya ryo.
aku tidak ingin menjawabnya.walau aku sudah terbiasa mendengar ceritanya tentang setiap perempuan yang sedang dekat atau didekatinya tapi entah kenapa saat ini kesedihanku sendiri seiring kemarahanku membuatku tidak bisa menahan lagi.aku menahan air mataku yang mungkin beberapa saat lagi akan keluar tanpa bisa kubendung.
“dia bilang dia hamil…” ucap ryo sambil membuang rokok ditangannya.
aku segera berdiri dan dengan tanganku aku mengisyaratkan ryo tuk berdiri juga.dengan wajah heran ryo menatapku dan beberapa saat kemudian dia mengangkat tubuhnya tuk berdiri didepanku.aku menundukkan wajahku dan membayangkan setiap tangis yuni yang selalu kuingat dan kesedihan juga perih di hatiku sendiri.
saat perasaan dan emosiku sudah mantap aku menatap tajam kewajah ryo.aku mengepalkan tinjuku dan dengan sekuat tenagaku aku melemparkan kepalanku kewajah ryo.sesaat terdengar suara benda bertabrakan dan tubuh ryo terlempar kebelakang terkena pukulanku.tubuhnya terbaring dilantai diatap itu dan sambil menahan semua kemarahanku aku berjalan kearahnya.
perlahan ryo mengangkat badannya dan dengan tangan kanannya mengelap darah yang keluar dari pelipis mulutnya.dia tidak berusaha melawan atau berbalik memukulku hanya duduk didepanku sambil menundukkan wajahnya.aku menjulurkan tanganku kearah tubuhnya.kepalanya ditolehkan kesamping sepertinya siap untuk menerima pukulan berikutnya.
aku mengambil pemantik yang terletak disamping tubuh ryo dan membalikan tubuhku dan berjalan menjauh.aku bisa mendengar suara tangis ryo dibelakangku.dalam hatiku aku bertanya siapa sebenarnya yang salah saat ini.didepan gedung kosan ryo aku naik kesepeda motorku dan menjalankannya menjauh.
kecepatan motor yang tinggi sepertinya tidak kurasakan lagi,aku hanya ingin segera sampai ke tempat tujuanku dimana aku yakin hatiku akan segera teruji lagi.dalam perjalanan itu hujan kecil menemaniku,membasahi tubuhku dan menghilangkan jejak air mataku yang mengalir.aku mematikan mesin sepeda motorku dan memandang kegedung kosan yuni.tujuh tahun yang singkat pikirku dan malam ini akan menambah hari dimana aku merasa sebagai lelaki paling bodoh.
beberapa saat semua kenangan ku bersama yuni dan ryo terbayang dipikiranku,saat bayangan wajah yuni dan ryo yang cerah saat pertama kali kukenalkan aku kembali menangis.aku adalah lelaki paling bajingan diseluruh dunia ini pikirku dan sesalku.setelah aku merasa kuat dan yakin aku melangkahkan kakiku kearah pintu kamar kos yuni dan mengetuknya pelan.
dari sisi luar aku bisa melihat tidak ada cahaya lampu dari dalam.aku membuka pintu didepanku yang sepertinya tidak terkunci dan melihat seonggok tubuh yang sedang meringkuk disamping tempat tidur.jantungku saat itu sepertinya berhenti berdetak beberapa saat.
yuni mengangkat kepalanya dan melihat kearahku,walaupun yang menerangkan ruangan itu hanya dari lampu jalan yang bersinar terang dibelakang tubuhku aku bisa melihat pucatnya wajah perempuan ini.jejak air mata membekas diwajahnya,yuni menyipitkan matanya mungkin merasa silau karena terbiasa dengan gelap.
“ryooooo…”ucapnya pelan.
kumohon padamu yuni,malam ini jangan ucapkan nama itu.
aku berjalan kearah tubuhnya dan duduk dengan kedua lututku yang ditekuk.aku mengelus rambutnya pelan dan mendorong punggungnya agar tubuhnya bergerak kearahku.aku memeluknya dan berusaha selembut mungkin tuk tidak menyakitinya.
“ryo jahat…..ryo jahat…ryo jahat faith…..” tangisnya meledak lagi yang membuat hatiku tersayat sayat.
selama ini aku selalu berada didekatmu yuni.berusaha tuk selalu menopangmu membuatmu tertawa saat kamu kesal atau gundah.menangis dibelakangmu saat kamu disakiti.menutup mataku saat kamu bersama dengan pria lain.menjauh saat kamu membutuhkan ruang dan waktu.disampingmu saat kamu membutuhkan punggung dan kuping tuk meringankan kesedihanmu.
aku selalu siap jika kamu membutuhkan seorang teman dan sahabat,tapi kenapa malam ini air mataku yang selalu kutahan saat berada didepanmu mengalir begitu deras.selama bertahun tahun aku selalu menjagamu.
“jahat….jahatttt…” suara yuni semakin pelan.
tubuh yuni terjatuh dari pelukanku.setelah terbiasa dengan gelap aku bisa melihat genangan kecil cairan yang hitam pekat.genangan darah yang mengalir dari tangan yuni yang terluka terkena sayatan.
“tidak yun…jangan malam ini…tidak…jangan…tidak yun…kumohon padamu…Tolong…TOLONGGGGGG….TOLONGGGGGGGGGGGGGGGGGG” aku berteriak sekencang mungkin sambil memeluk erat tubuh yuni yang terbujur kaku ditanganku.

pengaruh pembelajaran e-learning terhadap mahasiswa

November 5, 2010

PENGARUH SISTEM BELAJAR E-LEARNING BAGI MAHASISWA

LATAR BELAKANG

Dewasa ini teknologi berkembang sangat pesat. Banyak orang yang menggunakan teknologi untuk memudahkan aktivitas sehari-hari mereka. Teknologi juga digunakan pada bidang pendidikan. Salah satu penggunaan teknologi dalam bidang pendidikan yaitu sistem belajar e-learning. Dosen yang mempunyai banyak kesibukan biasanya menggunakan e-learning untuk mengajar. Dengan makin banyaknya dosen dan universitas yang menggunakan e-learning, maka akan berpengaruh pada mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tersebut.

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

E-Learning

Menurut Hartley (dalam Anonim, 2008) e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain. Sedangkan dalam Glossary of e-Learning Terms (dalam Anonim, 2008) e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone. Matthew Comerchero (dalam Anonim, 2008) mengemukakan definisi yang lebih luas mengenai E-learning yaitu sarana pendidikan yang mencakup motivasi diri sendiri, komunikasi, efisiensi, dan teknologi. Karena ada keterbatasan dalam interaksi sosial, siswa harus menjaga diri mereka tetap termotivasi. E-learning efisien karena mengeliminasi jarak dan arus pulang-pergi. Jarak dieliminasi karena isi dari e-learning didesain dengan media yang dapat diakses dari terminal komputer yang memiliki peralatan yang sesuai dan sarana teknologi lainnya yang dapat mengakses jaringan atau Internet.

 

 

PENGARUH SISTEM BELAJAR E-LEARNING BAGI MAHASISWA

Sistem belajar menggunakan e-learning memiliki keuntungan dan kerugian. Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh mahasiswa dari penggunaan metode ini. Pertama, metode pembelajaran ini bisa dilakukan kapan saja asal sesuai dan memenuhi target yang diberikan universitas. Kedua, lebih efisien dan efektif. Hal ini karena metode ini dapat menghemat waktu dan tenaga, mahasiswa tidak perlu pergi ke kampus untuk belajar, jadwal kuliah fleksibel karena jadwal kuliah tidak dibakukan dan dapat meminimalisir mahasiswa mengantuk atau bosan ketika mengikuti kuliah. Apabila mahasiswa diberi tugas oleh dosen mereka bisa langsung mencari jawaban dari tugas tersebut lewat browsing di internet langsung. Ketiga, metode ini dapat menghemat biaya yang dikeluarkan mahasiswa. Apabila semua dosen di universitas menggunakan metode ini, maka mahasiswa tidak perlu membayar biaya perkuliahan dalam jumlah besar. Mahasiswa tidak perlu mengeluarkan uang untuk browsing internet karena sebagian besar universitasnya menyediakan fasilitas hot spot (wi fi zone). Keempat, mahasiswa harus benar-benar aktif dalam proses belajar, karena dosen hanya bertindak sebagai pengarah, mediator, motivator, dan fasilitator. Kelima, secara tidak langsung metode pembelajaran ini mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan teknologi sahingga mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu tetapi juga supaya tidak gaptek (gagap teknologi). Mengingat di zaman yang maju dan modern seperti ini penguasaan teknologi sangat dibutuhkan. Keenam, dapat menghemat penggunaan kertas yang digunakan untuk mencatat atau mengerjakan tugas sehingga dapat membantu mencegah perluasan atau percepatan global warming. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kertas terbuat dari bahan dasar pohon, padahal pohon merupakan “peredam” global warming.

Penggunaan metode pembelajaran e-learning ini selain berdampak positif tetapi juga berdampak negatif bagi mahasiswa. Beberapa kerugian yang ditimbulkan dari penggunaan metode e-learning bagi mahasiswa. Pertama, tidak semua mata kuliah menuntut mahasiswa harus aktif sepenuhnya, seperti mata kuliah kalkulus, statistik, akuntansi, fisika atau mata kuliah kantitatif lainnya yang memerlukan bimbingan dari dosennya langsung. Untuk mata kuliah tersebut seperti itu pembelajaran seperti biasanya masih sangat dibutuhkan oleh mahasiswa. Kedua, metode ini membuat mahasiswa menjadi malas karena semuanya serba instant. Ketiga, penggunaan teknologi internet dalam proses belajar mengajar membuat mahasiswa semakin jauh dari buku. Padahal bagaimanapun juga buku adalah jendela dunia. Selain itu pertanggungjawaban dari pelajaran yang diajarkan melalui metode e-learning sulit dibuktikan karena pembelajaran tersebut berada di dunia maya, dimana didunia ini semua bisa dimanipulasi dengan mudah. Kelima, kurangnya atau minimnya tatap muka antara dosen dan mahasiswa membuat komunikasi diantara keduanya kurang, padahal saat ini komunukasi langsung sangat diperlukan. Selain itu, kadang mahasiswa sama sekali tidak tahu siapa dosennya sehingga mahasiswa kurang hormat terhadap dosennya (Anonim, 2008).

Data diatas bisa kita lihat dari hasil wawancara yang saya lakukan kepada salah satu mahasiswa Teknik Informatika Universitas Gunadarma yang pernah menggunakan sistem belajar e-learning (V-Class), maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

  • Apa sih kelas V-class?

“gampang… intinya gak usah dibikin ribet tinggal buka, pilih mata kuliahnya, kerjain tugasnya kalau ada.. nah dengan kita buka mata kuliahnya di V-Class, itu udah termasuk absen.. kayak absen di kelas

  • Menurut kamu apa manfaat dari V-Class (sistem belajar e-learning)?

“Manfaatnya sih yang ada itu jadi mengurangi waktu buat ke kampus, yang seharusnya ada jam kuliah dan mesti ke kampus ini jadi kosong… terus bisa diakses dimana aja selama waktu yang diberikan”

  • Menurut kamu apa kerugian dari V-Class (sistem belajar e-learning)?

“ruginya ya paling kalau jaringannya lagi gak bagus, terus waktu yang diberikan dosen buat V-Class udah gak cukup alias mepet banget..

  • Berarti kalau V-class gak ketemu temen-temen ya?

“iya,, gak apa-apa sih sebenernya kan tinggal telfon aja kalau kita gak ngerti tugasnya”

  • Kamu lebih memilih kuliah dengan sistem e-learning kayak V-Class atau kelas biasa aja dateng ke kampus?

“heee…. sebenernya sih enakan V-Class gak ribet, gak usah dateng ke kampus.. tapi gak enak juga sih jadi gak bersosialisasi sama temen-temen terus gak tahu dosennya juga yang mana.. jadi mending setengah-setengah deh..sebagian V-class, sebagian biasa aja..”

 

 

pengertian, kelebihan, dan kekurangan e-commerce

October 26, 2010

E-commerce atau bisa disebut Perdagangan elektronik atau e-dagang adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya. E-commerce dapat melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.

Industri teknologi informasi melihat kegiatan e-dagang ini sebagai aplikasi dan penerapan dari e-bisnis (e-business) yang berkaitan dengan transaksi komersial, seperti: transfer dana secara elektronik, SCM (supply chain management), e-pemasaran (e-marketing), atau pemasaran online (online marketing), pemrosesan transaksi online (online transaction processing), pertukaran data elektronik (electronic data interchange /EDI), dll.

E-dagang atau e-commerce merupakan bagian dari e-business, di mana cakupan e-business lebih luas, tidak hanya sekedar perniagaan tetapi mencakup juga pengkolaborasian mitra bisnis, pelayanan nasabah, lowongan pekerjaan dll. Selain teknologi jaringan www, e-dagang juga memerlukan teknologi basisdata atau pangkalan data (databases), e-surat atau surat elektronik (e-mail), dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti halnya sistem pengiriman barang, dan alat pembayaran untuk e-dagang ini.

E-commerce pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 pada saat pertama kali banner-elektronik dipakai untuk tujuan promosi dan periklanan di suatu halaman-web (website). Menurut Riset Forrester, perdagangan elektronik menghasilkan penjualan seharga AS$12,2 milyar pada 2003. Menurut laporan yang lain pada bulan oktober 2006 yang lalu, pendapatan ritel online yang bersifat non-travel di Amerika Serikat diramalkan akan mencapai seperempat trilyun dolar US pada tahun 2011.

Dalam banyak kasus, sebuah perusahaan e-commerce bisa bertahan tidak hanya mengandalkan kekuatan produk saja, tapi dengan adanya tim manajemen yang handal, pengiriman yang tepat waktu, pelayanan yang bagus, struktur organisasi bisnis yang baik, jaringan infrastruktur dan keamanan, desain situs web yang bagus, beberapa faktor yang termasuk:

1. Menyediakan harga kompetitif
2. Menyediakan jasa pembelian yang tanggap, cepat, dan ramah.
3. Menyediakan informasi barang dan jasa yang lengkap dan jelas.
4. Menyediakan banyak bonus seperti kupon, penawaran istimewa, dan diskon.
5. Memberikan perhatian khusus seperti usulan pembelian.
6. Menyediakan rasa komunitas untuk berdiskusi, masukan dari pelanggan, dan lain-lain.
7. Mempermudah kegiatan perdagangan

Beberapa aplikasi umum yang berhubungan dengan e-commerce adalah:

* E-mail dan Messaging
* Content Management Systems
* Dokumen, spreadsheet, database
* Akunting dan sistem keuangan
* Informasi pengiriman dan pemesanan
* Pelaporan informasi dari klien dan enterprise
* Sistem pembayaran domestik dan internasional
* Newsgroup
* On-line Shopping
* Conferencing
* Online Banking

Perusahaan yang terkenal dalam bidang ini antara lain: eBay, Yahoo, Amazon.com, Google, dan Paypal. Untuk di Indonesia, bisa dilihat tradeworld.com, bhineka.com, fastncheap.com, dll.

KELEBIHAN ELECTRONIC COMMERCE
Secara sederhana, perbedaan antara proses perdagangan secara manual dengan
menggunakan e-commerce dapat digambarkan pada gambar 1.1 dan gambar 1.2
Gambar 1.1 Proses Bisnis Manual
PEMBELI
1. Entry dokumen
3. FAX dokumen
4. Kirim dokumen
asli lewat kurir
2. Cetak dokumen 1. Terima dokumen
via FAX
PENJUAL
2. Entry ulang
dokumen ke
aplikasi penjual
3. Terima
PROSES MANUAL
Pengenalan Electronic
pada saat pemakai tersebut memasuki sebuah website. Cookies membantu operator
website tadi untuk mengumpulkan informasi mengenai kebiasaan membeli yang
dilakukan oleh sekelompok orang. Informasi ini tidak terhingga nilainya bagi bisnis
karena informasi tadi menjadikan pelaku bisnis membuat target periklanannya lebih
baik dengan informasi yang lebih baik mengenai demografis.
Keuntungan lainnya bahwa e-commerce menawarkan pengurangan sejumlah biaya
tambahan. Sebuah perusahaan yang melakukan bisnis di internet akan mengurangi
biaya tambahan karena biaya tersebut tidak digunakan untuk gedung dan pelayanan
pelanggan (customer service), jika dibandingkan dengan jenis bisnis tradisional. Hal
ini membantu perusahaan dalam meningkatkan keuntungannya. Salah satu jenis
bisnis yang mengambil keuntungan dari e-commerce adalah perbankan.
Keuntungan e-commerce bagi konsumen :
Seperti halnya bisnis yang berkeinginan merangkul e-commerce sebagai suatu cara
yang sah untuk melakukan kegiatan bisnis, konsumen juga berkeinginan mengambil
keuntungan dari seluruh kemungkinan yang ditawarkan oleh e-commerce.
Keuntungan yang terbesar bagi konsumen adalah melakukan bisnis secara online
dengan mudah. Seorang pembeli di internet dapat menggunakan komputer
pribadinya pagi atau malam selama 7 hari per minggu untuk membeli hampir semua
barang. Seorang konsumen tidak perlu mengantri di toko atau bahkan meninggalkan
rumahnya; yang dilakukan hanya mengklik sebuah produk yang ingin dibelinya,
memasukkan informasi kartu kreditnya, kemudian menunggu produk itu tiba melalui
pos.
Beberapa perusahaan e-commerce telah membuat proses ini lebih mudah.
Beberapa toko online menyimpan informasi kartu kredit pembelinya di server
mereka, sehingga informasi yang dibutuhkan hanya dimasukkan sekali saja.
Beberapa bisnis online bahkan tidak mengirimkan produk-produknya ke pelanggan
melalui pos, khususnya yang menjual software komputer. Sebagai contoh :
beyon.com mengizinkan para pelanggannya untuk men-download software yang
dibelinya langsung ke komputer mereka. Produk-produk lain seperti video dan musik
akan tersedia dengan cara seperti ini pada saat mendatang, sejalan dengan
meningkatnya bandwidth dari waktu ke waktu dan waktu download yang meningkat.
Keuntungan lainnya yang ditawarkan oleh e-commerce ke konsumen adalah
pengurangan biaya. Perusahaan yang menjual saham secara online, seperti etrade.
com membebankan biaya hanya sekitar $ 10 per perdagangan, yang jauh lebih
murah jika dibandingkan dengan membeli saham tersebut melalui perantara saham
tradisional.
Secara ringkas keuntungan e-commerce tersebut adalah sebagai berikut :
– Bagi Konsumen : harga lebih murah, belanja cukup pada satu tempat.
– Bagi Pengelola bisnis : efisiensi, tanpa kesalahan, tepat waktu
– Bagi Manajemen : peningkatan pendapatan, loyalitas pelanggan.

kekurangan e-commerce :

# Kekurangan :

*. Tampilannya sangat sederhana

*. Barang yang dijual tidak semuanya ditampilkan

*. Tampilan produknya kurang jelas


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.